Showing posts with label Cerita Sex. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sex. Show all posts

Saturday, January 5, 2019

Gadis Perawan Yang Polos

January 05, 2019
Gadis Perawan Yang Polos
Cerita Sex - sore itu waktu aku sampe dikantor aku disuruh leader ku untuk fotokopi,naah beranjaklah aku ke tempat fotokopi disebelah perusahaanku tersebut. Saat sampai di tempat fotokopi tersebut ada pemandangan yang gak biasa aku lihat yaitu sosok gadis seksi dengan paras lumayan cantik dan body yang sangat aduhai. Ternyata gadis itu adalah kariawan fotokopi tersebut. Pertama aku berlagak biasa saja walaupun sebenarnya aku ingin kenalan sama gadis itu. Setelah aku selesai fotokopi aku kembali ke kantor dengan rasa penasaran siapa cewek itu sebenarnya.

Keesokan harinya aku kembali ke tempat fotokopi tersebut berniat untuk mengajak kenalan gadis tersebut tapi dengan modus aku fotokopi. Dan tak kusangka ternyata gadis itu judes, aku mengajaknya berbicara tapi gadis itu diam saja. Kemudian timbulah dalam fikiranku untuk bias menikmati tubuhnya yang seksi tersebut.Beberapa hari kemudian aku bertanya pada teman kantorku ternyata ada yang kenal dengan pegawai fotokopi tersebut kemudian aku meminta no hp dan pin bbm nya. Ternyata gadis itu namanya Shintya, umurnya sekitar 20tahunan. Lalu aku langsung nginvite bbm nya dan tak lama ternyata bbmku langsung diterimanya, tapi aku mebiarkannya saja dulu. Cerita Sex Perawan,Cerita Dewasa,Cerita Perawan Abg,Remaja Perawan,Cerita Seks Perawan

Suatu malam di bbm nya shintya memasang foto yang cantik banget kemudian aku mencoba menggodanya dengan bbm dan ternyata tak kuduga gadis itu membalas bbm ku dengan baik. Aku lantas berfikir ternyata gadis ini enggak judes, mungkin aja belum kenal maka terliat judes.

Setelah beberpa hari aku bbm’an dengan shintya aku beranikan diri untuk mengajaknya makan siang dan diapun ternyata mau. Lalu akumenjemputnya ditempat ia bekerja lalu aku menuju suatu rumah makan sederhana. Sambil makan aku bertanya “apa gak ada yang marah niiih kalo kita makan berdua gini”, “aaahh gak ada orang aku jomblo kok mas” jawab shintya. Dalam hati aku berkata yes aku ada kesempatan. Selang 20 menitan kita selesai maan lalu aku mengantarnya kembali ketempatnya bekerja dan akupun kembali bekerja.

Seminggu kemudian waktu malam minggu aku mengajaknya keluar untuk makan malam.aq mengajaknya disebuah cafe didaerahku. Aku bertekat untuk menyatakan perasaanku kepadanya malam itu entah diterima atau tidak. Disela-sela makan aku bercanda dengannya seolah kita sudah akrab lama. Obrolanpun aku juruskan menuju pernyataan cintaku padanya. Seleai makan tepatnya sebelum pulang aku menyatakan perasaanku padanya dan diapun diam sejenak mendengarkan pernyataanku tersebut. Akupun berfikir “waaah aku pasti bakal ditolak” dan ternyata tak sesuai dugaanku shintya pun menerima cintaku. Perasaanku sangat bahagia sekali.

Setelah shintya menerima cintaku akupun lantas mengantarnya pulang. Sesampainya dirumahnya terlihat rumahnya sangat sepi. Ternyata dia hanya tinggal dirumah berdua sama neneknya karena kedua orangtuanya berada diluar jawa untuk bekerja. Aku sampai dirumahnya sekitar jam 9 malam belum malam-malam banget siih tapi aku memutuskan untuk berpamitan pulang, tapi ketika aku berpamitan untuk pulang ternyata shintya malah menahanku untuk tidak pulang dulu, dia meminta agar aku menemaninya sebentar karena ternyata neneknya sedang ada drumah om nya tidak jauh dari tempat tinggal shintya.

“Timbulah pikiran kotorku siapa tau aku bias langsung menikmati tubuh shintya”. Akupun mengiyakan permintaan shintya dan menemaninya. Gurauan dan candaan pun menghiasi obrolan kita sampai2 tak sengaja tanganku mengenai payudaranya. Langsung candaan kita berhenti dan kita saling bertatap muka. Tanpa berpikir panjang aku langsung mendekatkan wajahku kewajah shintya dan tak kusangka ternyata dia hanya diam saja seaakan memberi tanda untuk aku segera menciumnya. Tak lama aku langsung mencium bibirnya, diapun membalas ciumanku dengan mesra. Lidahku mulai bergerilya didalam rongga mulutnya diapun membalas lidahku. Kita saling menikmati ciuman tersebut.

“Timbulah pikiran kotorku siapa tau aku bias langsung menikmati tubuh shintya”. Akupun mengiyakan permintaan shintya dan menemaninya. Gurauan dan candaan pun menghiasi obrolan kita sampai2 tak sengaja tanganku mengenai payudaranya. Langsung candaan kita berhenti dan kita saling bertatap muka. Tanpa berpikir panjang aku langsung mendekatkan wajahku kewajah shintya dan tak kusangka ternyata dia hanya diam saja seaakan memberi tanda untuk aku segera menciumnya. Tak lama aku langsung mencium bibirnya, diapun membalas ciumanku dengan mesra. Lidahku mulai bergerilya didalam rongga mulutnya diapun membalas lidahku. Kita saling menikmati ciuman tersebut.

Tak lama tanganku mulai memegang payudaranya dan diapun diam saja, aku lalu meremas-remas payudranya yang kutaksir sekitar 36 itu. Kurasakan penisku mulai tegang. Ciumanku mulai sampai keleher shintya, aku sengaja membuatnya terangsang. Sambil berciuman aku memasukan tanganku untuk masuk kedalam kaosnya, dan masuklah tanganku. Besar sekali rasa payudaranya saat kupegang. Diapun mulai mendesis pelan. Aku semakin bernafsu, kupegang tangannya dan kuarahkan kepenisku yang sudah sangat keras sekali. Dengan tanpa kusuruh tanganya pun mulai meremas penisku.

Setelah kurasa kita berdua terangsang aku mulai membuka kaos yang dia kenakan dan bra merah yg dia pakai, aq menjilati putting susunya dia mulai merintih keenakan terus tanganku juga mulai masuk kedalam celananya mengobok-ngobok memknya dengan jariku. Shintya lalu membuka resetlingku dan mengeluarkan penisku dari celana dan dengan ganasnya diapun langsung mengulum penisku. Aku merasakan sangat nikmat sekali. Akupun membiarkanya menikmati penisku yang besar itu.

Setelah sekitar 5 menit shintya mengulum penisku, aku membuka celana dan celana dalam nya lalu aku rebahkan dia disofa. Perlahan aku mulai masukkan penisku kedalam memeknya “Bleeeeesssss” penisku masuk liang senggamanya. Aku memaju mundurkan pelan-pelan.

“Aaaaahhhhhh….Aaaahhhhhh….” desah shintya. Aku terus memompanya “Plooook…Ploook…Ploook…”. Aq pandang wajah shintya dia sangat menikmatinya. Setelah beberapa menit aku menarik tangannya dan meminta dia diatasku, diapun menurutinya. Dia terus bergoyang memainkan perannya diatas. Tak lama dia bergoyang shintya berteriak lirih “Say…Saayyyaaank…Aku keluuuaaarr…” akhirnya dia orgasme untuk yang pertama.

Setelah aku merasa bosan dengan gaya itu lalu memintanya untuk nungging, kumasukkan lagi penisku yang keras itu kedalam memeknya dari belakang. Kusodok secara cepat (aku berfikir agar aku segera keluar sebelum nenknya pulang). Shintya merintih “Aaaahhhh….Sayank..pelaan pelaaaan” tapi aku tidak mempedulikannya aku terus menyodoknya dari belakang secara cepat sehingga terdengar suara “ploooook…plooook…plooook” sangat keras..

Kurang lebih 10 menit aku menyodoknya dari belakang, aku merasakan badanku bergetar, aku merasa melayang sampai terasa di ubun-ubunku. Dan akhirnya “Crrooooottt…..Crooottthhh….Croootttttt…” tak terkira berapa kali aku menyemprot liang rahimnya dan aku membiarkan sejenak penisku tertancap di memeknya. Setelah itu kita saling berpakaian, kita membersihkan badan kita hanya dengan tisu yang ada dimeja tamu.

Setelah kita berpakaian aku melihat wajah shintya terdiam murung, kemudian aku bertanya.

“kamu kenapa sayank”
“kenapa tadi keluarkan didalam,nanti kalo aku hamil gimana” jawab shintya
“gak papa sayank,kn Cuma sekali,besok-besok nggak aku keluarkan didalam lagi deeh” jawabku meyakinkannya
“pokoknya kalau aku hamil kamu harus bertanggung jawab” cetus shintya
“iya sayank, aku pasti tanggung jawab kok” jawabku agar shintya merasa tenang
“janji ya” shintya meminta janji
“iya janji sayank” jawabku sambil mengecup keningnya.

Tak berapalama neneknya pulang diantar om nya, dan aku berjabat tangan sambil aku berpamitan untuk pulang. Dan sesudah kejadian malam itu aku dan shintya sering melakukan hubungan intim, baik dirumahku waktu rumahku sepi, baik dirumah shintya, kadang week end kalau gak ada tempat kita juga kehotel untuk melampiaskan birahi kita berdua.

Nonton Movie Online

Menggoda Amoy Saat Di Pantai

January 05, 2019
Menggoda Amoy Saat Di Pantai
Cerita Dewasa - sebuah kisah ngentot yang menggairahkan. Suntuk! Satu kata yang membawaku melarikan motor kesayanganku membelah dinginnya malam bulan Agustus, menuju ke pusat keramaian kota Yogyakarta, Maliboro. Terus terang fikiranku kacau, wanita yang aku sayangi sore tadi pergi tanpa pamit bersama temannya ke luar kota. Padahal sudah lima hari ini tak diberinya jatah sex, dengan alasan sedang ujian tengah semester. Mau meledak rasanya kepala ini, harus kusalurkan nafsu ini bila tak ingin uring-uringan terus. Terbayang di benak semua rencana tuk malam ini memberi kepuasan dirinya dan pelampiasan nafsuku, sebutir obat kuat telah kusiapkan disaku calana. SIAL! makiku dalam hati…

Warung itu terlihat sepi. Sebetulnya bukan warung, lebih mirip gerobak dorong makanan yang terparkir di pinggir jalan seberang toko Ramai Malioboro. Kuparkir motor di depan gerobak makanan itu, kupesan segelas jahe tape untuk mengusir dinginnya malam. Kulirik jam baru setengan sembilan malam, tinggal setengah
jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini.

Waktu pun berjalan, fikiranku terus berkecamuk, terdengar suara wanita memesan segelas teh hangat di sampingku. Kugeser letak dudukku, kulirik dia, hmm lumayan juga nih cewek. “Permisi mas numpang duduk” sapanya. “Oh monggo, silahkan-silahkan” jawabku memberi tempat kepadanya. “Kok belum pulang mbak?” tanyaku membuka percakapan. “Iya mas, tunggu jemputan, tapi kok belum kelihatan ya” jawabnya sambil menengok kiri dan kanan. “Biasanya dah jemput dari tadi lho mas” tambahnya. Tiba-tiba Hp di tas wanita itu berbunyi, kulihat dia menjawab telepon itu, kuperhatikan wajahnya. Alamak! wajah itu tertekuk marah, menambah manis wajah ayunya. “Kurang ajar” katanya sambil menutup pembicaraan teleponnya. “Kenapa mbak, kok marah-marah?” tanyaku padanya. “Dasar cowok gak tahu di untung, minggat sana sama gendaknya” maki dirinya kepada cowok di telepon tadi. Tiba-tiba dia menelungkupkan wajah ayunya ke atas meja sambil menangis. Wah kacau nih, pikirku. “Sudahlah mbak, nggak usah dipikirin, laki-laki emang begitu” rayuku sambil tak kusadari bahwa aku juga laki-laki yang mungkin lebih berengsek dari cowoknya tadi.

“Gimana kalau saya saja yang mengantar embak?” kutawari diriku untuk mengantar. Wanita itu menengadah, terlihat air mata yang masih mengalir dari kedua boal matanya. Oh My God, ayu tenan gumam hatiku, wajahnya itu lho lucu, imut, kasihan diterpa cahaya lampu tempel di meja gerobak dagangan makanan. “Mas nggak papa? Nanti ada yang marah? tanyanya sambil menatap lekat padaku. “Kita senasib kok mbak, Anton” kataku memperkenalkan diri sambil meraih tangannya menuju motor. Setelah kubayar minuman kita, kuulurkan helm kepadanya. Motor kustarter, dia duduk dibelakangku. “Aku Ika mas. Senasib bagaimana sih mas?” tanyanya padaku. “Aku juga ditinggal cewekku sore tadi, dia pergi sama teman-temannya tanpa pamit padaku” jawabku. “Tinggalmu di daerah mana mbak?” tanyaku.

“Apa” tanyanya sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepalaku, seerrr… payudara yang bulat kencang, sekarang nempel merapat di punggungku, terjadilah pemberontakan di dalam celana dalamku. Sial… aku lupa mencukur bulu bawahku, sekarang terasa perih menggigit terdesak pisang ambonku yang perlahan serta pasti mengeras. “Kenapa mas?” tanyanya sekali lagi padaku. Wajah gadis itu di sebelah kanan agak kebelakang arah wajahku, kutengok ke samping kanan, persis yang kuduga sebelumnya, begitu menengok, kucium lembut dan menyentuh pipi serta sedikit mulutnya, “iiiihhh, nakal ya masnya ini” katanya sambil mencubit pinggangku. Haa haa haa… “Kostmu daerah mana adik manis?” tanyaku menahan perih di pinggang akibat cubitannya. “Enggak tau, aku lagi males pulang” cemberutnya sambil terus mencubit pinggangku. Kuhentikan motorku di tepi jalan. “Kok berhenti mas?” tanyanya.

“Habis kamu nyubit terus dan gak di lepas-lepas sih… nanti gimana jalan motornya?” candaku. “Habis masnya juga genit sih, pake ngesun segala” ujarnya. “Nah gitu dong, jangan sedih terus, ntar ilang lho manisnya” kataku cengengesen. “Tu kan… mulai lagi” ketusnya sambil bersiap untuk mencubit pinggangku lagi. Kutangkap tangan lembut itu, kugenggam mesra sambil bertanya “Trus kita mau ke mana cah ayu?” Ditundukkannya wajahnya “Terserah mas aja lah. pokoknya aku males pulang ke kostan”. “Ya oke deh, kita nikmatin malam ini berdua aja ya” jawabku. “He eh” sambutnya sambil melendot manja, ah dasar wanita dirayu sedikit, keluar deh manjanya. Kulaju motorku ke arah selatan Yogya. Namanya rejeki gak lari ke mana, sorak hatiku.

Sampailah kita di daerah pantai Parang Tritis, angin laut selatan menyambut kita disertai dinginnya musim kemarau bulan Agustus. Kulepas jaketku dan kukenakan kepadanya yang hanya berkaus ketat berlengan pendek. Kuparkir motor di atas pasir pesisir pantai, kurengkuh bahunya untuk duduk di pasir, dia diam saja, pandangan jauh menatap kelamnya lautan. “Kenapa, kok ngelamun” tanyaku. “Tauk nih, kita kan baru beberapa jam lalu kenalan, kok udah akrab ya” jawabnya. “Emang kenapa? nggak boleh? Aku suka dari pandangan pertama tuh” kataku ngawur. “Iiiiih, ngawur lagi deh” sergahnya sambil mulai mencubitku lagi. Sebelum tangan itu sampai, aku bangkit berlari menghindar, terjadilah kejar-kejaran diantara kami, sampai suatu saat kakiku tersandung lobang dan jatuh. Karena jarak kami tidak terlalu jauh, dia pun ikut terjatuh, sebelum sempat kusadari, reflek tanganku meraih tubuhnya, berpelukanlah kami berdua. Dia terdiam, akupun menahan nafas, perlahan kusorongkan wajahku mendekati wajahnya, kucium lembut bibirnya, ia pun membalas sambil memejamkan matanya, kami berdua terhanyut, melayang tinggi dengan latar belakang deburan ombak pantai selatan.

Malampun semakin larut, kami memutuskan untuk menginap di salah satu losmen yang berada i sekitar pantai. “Kok kamu mau menginap dengan cowok yang baru kamu kenal sih” bisikku ketelinganya. “Habis mas baik sih, mau nemenin Ika yang lagi sebel” katanya manja. Kuraih wajahnya, kepagut bibir mungil Ika, kami berdua berciuman mesra. Tangan kananku memeluk pinggang, tangan kiriku bergerilya masuk ke dalam kaus Ika. Cumbuan kualihkan ke leher jenjang Ika, dia mendesis dipeluknya tubuhku. “Sss…mass… enaaakk” erang Ika. Tangan kiriku berusaha masuk melalui bra yang agak ketat, sedang tangan kananku berusaha membuka kaitan bra di punggung Ika. “Mas Ann… ton… Ika lee.. messs nih… sambil tiduran yuk…?” pintanya. Kurebahkan diri Ika ke atas ranjang, kumainkan kedua belah payudara Ika, Ika terpejam kembali dengan mengerang perlahan… sss… sss… yang keras mas remasnya… sss…
Kubungkukkan bandan, mendekat ke arah payudara Ika, ku kulum puting sebelah kiri sementara tangan kananku meremas sebelah kanan. Tangan ika menjambak rambutku… Sss… enaaakk… masssss… hisap yang kuat sayang… Jilatanku kuteruskan menelusuri sampai ke pusar, kumainkan lidahku di lubang pusar Ika. Malam kian larut, deburan ombak terdengar sampai ke dalam kamar losmen, seakan musik mengiringi deru nafas memburu kami berdua. Kupandangi tubuh Ika, kuusap mesra wajahnya, Ika memandangku pasrah, kubelai perutnya dengan tangan kanan, terus turun hingga ke celana panjang Ika. Kubuka kancing celana Ika, kuturunkan resluiting dan kubelai dengan punggung tanganku.

“Mas Anton… jangan siksa Ika dong… cepet copot baju dan celana mas juga” pinta Ika seperti memelas. “Sebentar sayang, mas mau buang air kecil dulu ya” kataku sambil berlalu ke kamar mandi. Aku mencopot baju dan celanaku serta celana dalamku sambil mengelus penisku “sabar ya sayang, nanti kukenalkan pasanganmu” kataku bergumam senang. Ika terpekik tertahan melihat kondisiku yang bugil, sambil menutup mulutnya. “Mas Anton… kok gede banget penisnya? kira-kira muat gak ya unya saya?” tanyanya. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya. “Udah enggak sih… cuman dah lama gak kemasukan, apalagi segede punya emas?” jawabnya senyum dikulum. “Ya udah nikmatin dulu deh punya emas ini ya” kataku sembari menyodorkan penisku ke wajahnya. Ikapun bangkit dan menyentuh penisku sembari dijilatinya, kemudian memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya, terlihat sesak tatkala dia memasukkan batangku.

Aku tersenyum melihatnya terbelalak-belalak. “Cape nih mas mulut Ika, pegel!” protesnya. “Ya udah, sekarang giliran emas mau cium vegi Ika ya” kataku meredakan protes Ika. Kemudia Ika kembali tiduran sembari mengangkangkan kedua pahanya, kudekatkan kepalaku di selangkangan Ika yang memang luar biasa bersihnya kemaluan ika dengan rambut sedikit dirapikannya, kumulai mengulum kemaluan Ika. Kedua tangan Ika menjambak rambut di kepalaku. “Achhh… terus masss… yesss… gigit masss…” erang Ika seperti cacing kepanasan. Gila aja cowok goblok itu, barang sebagus ini disia-siakan bathinku berkata sembari terus menjilat dan sesekali kumasukkan lidahku kedalam liang vegi Ika. “Maasss… aaakkkuu… nyammpeee…!” jerit Ika sembari menekan kepalaku ke dalam vaginanya. Tubuh Ika bergetar hebat, dari lubang kemaluan Ika keluar lendir orgasme yang lansung tak kusia-siakan untuk menyedotnya ternyata gurih sekali cairan orgasme Ika. Setelah beberapa saat Ika tergolek lemas seperti tak bertenaga, kudekati Ika dan berbaring di sisinya, kukecup keningnya dan kubelai rambut Ika, “Gimana rasanya sayang?” tanyaku. Ika tak menjawab, hanya tatapan sendu serta senyuman Ika yang mewakili sejuta kata-kata yang mewakili dirinya mencapai puncak kenikmatan.

Kemudian aku bangkit, melumuri penisku dengan air ludah, agak kuangkat Ika untuk agak menepi dari ranjang. Perlahan aku arahkan penisku ke tengah selangkangan Ika. “Pelan-pelan ya mas…” pinta Ika memohon. Pertama ku sibak bibir vagina Ika, kemudian kutempelkan kepala helm penisku di tengah vaginanya, perlahan-lahan kudorong masuk ke dalam. Dengan orgasmenya Ika tadi, seolah telah siap untuk menerima kedatangan penisku, tetapi tetap saja agak sempit.

Kulihat Ika agak meringis, “Kenapa Ka?, sakit ya?” tanyaku. “Sedikit mas, tapi gak pa pa kok, Ika tahan”. Aku gak mau buru-buru, sedikit demi sedikit kukeluar masukkan batang penisku ke dalam vagina Ika. Setelah masuk setengah, kudiamkan sejenak untuk memberi waktu vagina Ika menyesuaikan dengan batang penisku, kulihat Ika menatapku, “Kenapa berhenti mas? aku dah mulai merasa enak kok rasanya” kata Ika sedikit protes atas perbuatanku. Memang aku penjahat kelamin, kata teman-temanku, sebetulnya aku sendiri gak setuju karena menurut diriku sendiri aku adalah penyayang kelamin, gak mau asal aja make love dan wanita merasa sakit, karena prinsipku hubungan sex itu adalah kepuasan antara dua insan berlainan jenis.
Setelah kulihat Ika sudah terbiasa dengan penisku, mulailah kumaju mundurkan senjataku tersebut, sambil melirik Ika. Ternyata Ikapun sudah menikmati keluar masuknya penisku di vaginanya. Sekitar lima menit kemudian Ika kontraksi, rupanya dia sudah mau mencapai orgasme lagi. Massssss…akkkuuu… nyammmppeee… erangnya sambil memeluk erat tubuh serta menjepit keras pinggulku. Aku imbangi orgasme Ika dengan menancapkan batang penisku dalam-dalam.
“Gimana sayang?” tanyaku. “Waduh mas luar biasa deh” jawabnya sambil terengah-engah. Kemudian Ika aku suruh telentang di atas rajang, kemudian aku naik di atas tubuh Ika, kujilati sekitar payudara Ika yang memang sudah basah oleh keringatnya. Kemudian kusuruh kedua tangan Ika untuk menjepit kedua payudaranya, setelah itu batang penisku aku tusukkan di tengah jepitan payudaranya. Ika tersenyum paham dengan perbuatanku dan bertanya “Kenapa gak dikeluarin di dalam vagina Ika aja mass?” tanyanya. “Enggaklah, nanti kamu hamil lagi” jawabku. Ikapun tersenyum manis. Kukocok kemaluanku di jepitan payudara Ika, tak berapa lama terasa ada sesuatu yang akan meledak dari ujung kemaluanku, Ika menengadah ke arah payudaranya, “Kaaa… masss mau sammmpe juga nihhh…” erangku. Kulihat Ika membuka mulutnya, seolah mau menampung muncratan orgasme ku. Melihat hal itu buru-buru ku copot penisku dari jepitan payudara Ika dan kumasukkan ke mulut Ika, disambutnya penisku dan di kulumnya. Meledaklah semua spermaku di mulut Ika sampai tetes mani terakhir. “Enak kok mas, gurih… Ika seneng sama sperma emas?” kata Ika sambil tersenyum. Akupun seperti habis berlari berpuluh-puluh meter, nafasku tersengal tetapi senyumku masih bisa kupaksakan untuk Ika. Kupeluk tubuh bugil Ika, kuciumi wajah, pipi, dan kamipun beciuman mesra, kamipun tertidur pulas hingga pagi tanpa sehelai benang nempel di kedua tubuh bugil kami.

Pagi pun merangkak ke siang, aku terjaga dan kulihat di sebelahku Ika sudah tidak ada. Dengan perasaan malas aku bangun dan menuju ke kamar mandi. Sesampai di sana kulihat Ika membelakangi pintu dan sedang menyikat gigi, perlahan kudekati dan kupeluk dari belakang, tak lupa tanganku mampir di kedua buah dada Ika.
“Eh dah bangun ya mas?” sapa Ika. Kurasakan penisku menegang lagi, dengan posisi demikian kurenggangkan kedua kaki Ika dan perlahan kumasukkan penisku dari belakang. Ika mengerang lirih dan berpegangan pada tepi bak mandi, sampai akhirnya Ika mencapai orgasmenya.
Setelah itu ia jongkok di depanku dan mulai mengulum penisku sampai mencapai orgasme yang ditelan Ika sampai habis.

Setelah mandi dan sarapan, kami berdua bersantai di teras depan losmen. Kemudian Ika bertanya dengan perasaan sedih, “Mass, kira-kira besok-besok gimana ya hubungan kita..” tanyanya sedih. “Mau kamu gimana Ka? balasku bertanya lagi. “Mau Ika kita gak buru-buru putus mas, setelah peristiwa semalam sampai hari ini, kayaknya Ika suka deh sama mas Anton?” katanya sambil mulai meneteskan air mata. Aku bangkit dan memeluk dirinya, ku elus punggung dan rambutnya. “Mas juga sama kok perasaannya dengan kamu sayang” kataku menghibur. “Kita lihat besok aja ya, dan aku janji selalu menghubungi kamu ya Ka.” kataku kemudian. Ika hanya mengangguk lemah.

Sejak itu sesuai dengan janjiku, aku selalu mengunjunginya dan kami masih berhubungan intim terus, bila tidak di kostanku ya di kostnya Ika. Sampai suatu saat dia bilang kalau dilamar oleh cowoknya yang dulu, dimana cowoknya telah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan menyakiti Ika lagi. Aku pun agak goncang, tetapi gimana lagi, aku sendiri masih kuliah, masih nodong orang tua, sementara cowok si Ika telah bekerja, akhirnya kuihklaskan kepergian Ika. Sebelum berpisah Ika kuajak ke Tawangmangu selama dua hari, berdua memuaskan hasrat sebelum berpisah. Memang Ika sendiri tidak bisa menolak cowok tersebut yang masih terhitung famili jauhnya, setelah kunasihati akhirnya Ika mau mengerti dan menerima lamaran cowoknya.
Kini aku jomblo lagi, sementara cewekku dulu sudah aku putus kemarin-kemarin, yah semoga bro-bro masih mau membaca kisah petualanganku yang lain di lain cerita.

Nonton Film Bioskop

Friday, January 4, 2019

Gadis SMA Sangean

January 04, 2019
Gadis SMA Sangean
Cerita Sex - Kuakui sejak masih duduk dibangku SMA aku sangat terobsesi dengan sex dan itu semakin menjadi sejak aku kuliah disalah satu universitas swasta yang ada di kota Madiun. Dari awal, aku sudah berniat untuk bertualang… saat itu karena terburu-buru dan banyak tempat kost yang udah penuh akupun asal aja dalam mencari tempat kost…. aku nge-kost diperkampungan yang lumayan jauh dari kampus, tepatnya dirumah Pak YT (inisial) yang merupakan paman dari temanku

Sheila (nama samaran) yang baru aku kenal pagi harinya saat daftar ulang.
Singkat cerita setelah tiga hari masa orientasi selesai, dikampus belum ada kegiatan dan aku putuskan untuk lebih mengenal Madiun. Sheila hampir selalu menemaniku walau gak pernah berangkat bareng dari rumah alias ketemu di jalan walau rumahnya disebelah kostku. Satu minggu berlalu akupun semakin akrab dengan Sheila yang bertubuh bohay, sensual, berkulit putih mulus dan yang pasti berwajah cantik… mantap banget buah dadanya kaya Fivey.

Saat itu aku mengajak Sheila pergi ke Telaga Ngebel, menikmati alam dan buah duriannya. Seminggu aku rasa cukup untuk PDKT dan aku putuskan untuk menembaknya…

“Sheil….walau baru kenal, aku nyaman didekatmu dan kalau boleh aku ingin selalu didekatmu untuk lebih mengenalmu….maukah kamu menjadi pacarku???? Tanyaku ungkapkan rasa hati

Sheila sangat terkejut mendengar ucapanku bahkan sampai tersedak durian

“apa…..kamu bercanda kan, kita kan baru kenal?? Jawabnya balik bertanya.
“justru itu…dengan pacarn kita bisa lebih saling mengenal” jawabku coba meyakinkannya.

Wajah Sheila mendadak menunduk dan dengan sedikit menghela nafas dia menjawab “maaf Dith….aku sudah bertunangan…. sambil menunjukan cincin yang ada di jari manisnya.

“ooo…udah tunangan ya? Kok kamu gak pernah cerita?? Aku pikir dengan kamu selalu menemaniku begini….kamu nyaman ama aku” jawabku dengan nada kecewa.
“mungkin kalau kamu kenal aku dari 2 bulan yang lalu, aku bisa menerimamu….sebenarnya hati kecilku juga mengiyakan….kita temenan aja ya? Jawabnya
“maksudmu…sebenarnya kamu mau….
“udah sore, ayo pulang yuk???!!! Ajakanya memotong kata-kataku

Kami pulang dengan tak banyak bicara, bahkan terkesan kaku dan membeku tidak sehangat waktu kami berangkat. Kring….kriiing…kriiing…..Hpku berbunyi, ternyata telpon dari sheila tapi gak aku terima bahkan SMS juga sengaja gak aku bales. Jam sudah menunjukan angka 11 malam, aku berniat ke kamar mandi baru kemudian melanjutkan tidur lagi. Tapi aku sangat terkejut saat mendapati seorang wanita setengah telanjang berada dikamar mandi dengan pintu terbuka. Kami saling menatap tak berkedip, tanpa kusadari ko*tolku bergerak2 dibalik sarungku tanpa CD. Perlahan dia beranjak dari duduknya dan melangkah pergi…

“Maaf…aku takut sendirian, makanya gak aku tutup….kamu Adith kan????

Aku bengong tak menjawab pertanyaanya….dan dia berlalu dengan cepatnya!!!!!

Semaleman aku dibuat penasaran, siapa dia? Pak YT kan duda???? Pertanyaan itu memenuhi kepalaku, ditambah lagi melihat tubuh setengah telanjang dengan wajah santainya….pahanya, bodinya dan memeknya (walau gak jelas).
Keesokan harinya aku di panggil pak YT untuk dikenalkan dengan adik terakhirnya, namanya Vivi tapi dia sudah 7tahun tinggal di Samarinda ikut kakaknya yang pertama.

“ooyaa….kalau gak masuk kuliah, anterin Vivi ke Sarangan ya? Pinta pak YT.
“iya pak… aku langsung mengiyakan permintaanya walau sebenarnya ini hari pertama masuk.

Satu jam kemudian aku dan Vivi berangkat dari rumah,…

“sheil…sheila ayo ikut ke Sarangan…temani aku” teriak Vivi dari dalam mobil.

Akhirnya Sheila ikutan masuk mobil dan kamipun berangkat. “maaf ya Vi….yang semalem, aku gak sengaja…. kataku membuka obrolan.

“iya gak apa, lagian salahku juga gak menutup pintu….jawab Vivi

Agak bingung sheila bertanya “kalian ngomong apasih??

“ahh…itu lho Sheil, dari kecil aku kan takut gelap dan sendirian diruangan jadi aku pipis gak nutup pintu…..gak sengaja Adith juga mau ke toilet…jadi ya,,,,,
“ngintip kamu ya???? Celetuk Sheila memotong
“gak ngintip, tapi emang udah kelihatan kali….tanya aja Adith….jawab Vivi seenaknya.

Aku lihat dari kaca wajah Sheila mendadak berubah, seperti ekspresi orang cemburu.

Sesampainya di Sarangan, kondisinya tidak berubah teutama aku dan Sheila, kami gengsi menyapa duluan. Akupun lebih dekat dengan Vivi, bahkan dengan cuek Vivi menyuapin aku makan… wajah Sheila memerah menahan cemburu, aku tahu itu. Aku sengaja semakin bersikap mesra pada Vivi….bahkan terang-terangan mengajak Vivi jalan….

“Vi…ntar malem temani aku ya??? Pintaku

Kemana, berdua aja? Jawab Vivi seperti sengaja membantu aku membakar hati Sheila

“ke Fire Club??? Jawabku agak ragu, karena saat itu aku belum tahu pasti Fire itu Diskotik atau apa…
“asyik tuh, lama banget aku gak pernah gituan…. jawab Vivi

Dan benar saja, malam itu kami minum-minum sampai mabuk…dan pulang dengan berjalan gontai saling berpelukan. Samar2 kulihat ada bayangan Vivi sedang mengamati kami dari balik korden jendela kamarnya. Aku makin erat melingkarkan tangan ke pinggang Vivi dan terus melangkah menuju kamarku….aku udah mabuk, yang ada di otakku hanya tidur bersama Vivi…tanpa berpikir salah benar atau takut ketahuan pak Yt. Sengaja aku nyalakan lampu kamar, agar Sheila bisa melihat bayangan kami dari balik korden. Jujur aku juga sangat heran dengan Vivi yang gampangan dan seperti terbiasa…..

“ah…masa bodoh….yang penting happy….pikirku dengan penuh nafsu….

Aku lingkarkan tanganku di pinggangnya sambil menciumi lehernya, dadanya yang masih terbungkus tangtop dan menggigit2 lehernya…..

AAAAaaaaaaaggggggggghhhhhhhh…..Vivi mendesah panjang

Diapun membalas dengan ciuman bertubi di leherku dengan tangan mengelu-elus perutku….
HHhhmmmmmmmm…..geli banget Vi, enaaaakkkk………bisikku ke telinganya.
Kami saling melucuti pakaian, dari baju hingga celana dan akhirnya kami bugil…. dengan cepat desambarnya ko*tolku dengan tangan kananya dan mulai mengulum, menjilat, menggelitik dan mengocok ko*tolku dengan mulutnya.
Ooohhhh….aaahhhh….uuuhhhhh…..aku mendesah tak tentu menikmati perlakuannya.

Aku juga tak mau kalah, aku remas kedua toketnya dengan kedua tanganku, sambil menghisap putingnya… kami mabuk alkohol dan mabuk birahi. Aku buka jendela kamarku dengan niat agar Sheila lebih jelas melihat kami bergumul melepaskan satu-persatu pakaian kami, hingga tidak tersisa….

“aku karaoke ya? Kata Vivi sambil menyambar ko*tilku dengan kasar, seakan tak sabar menikmatinya. Dan benar saja, ko*tolku diposisikan seperti layaknya mikrofon….sambil dia menyanyikan lagu wajib ML….aaaahhhh…..hheeeemmmmm… emuach…. mmmmmm…. dengan iringan suara becek dari mulutnya. OOOouuuuuuhhhhgggg…nikmat banget Vi, aku tak tahaaannn geliiiiiiiiiiii…..
aku jambak rambut Vivi dan memaksanya untuk berdiri….

kami berciuman, dengan bibir saling menghisap dan lidah memilin….Crub…cruuuubb….. suara sedotan kami mengusik keheningan malam. Aku remas kedua toge Vivi yang keras dan bulat…..Uuuuuuhhhhhh…..desahnya.

aku cium dan gigit lehernya, sambil terus meremas togenya dengan penuh nafsu dan gemes….
terus….emuach….emuaaaaaccchh…..emuaaacccchhh ….menyusuri perutnya….hingga sampai ke vagina Vivi yang sudah becek….aku semakin liar, seakan alkohol dalam tubuhku membakar birahiku….dengan penuh semangat dan tanpa jijik, aku masukan lidahku kedalam Vaginanya, meliuk, menari dan menggelitik klitorisnya….layaknya sebuah tombool sekali sentuh klitoris itu langsung memaksa tubuhnya bergerak mengejang dengan desahan yang semakin hot dan panjang…..aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh…….. ..aaaaaaaaaaaahhhh

dengan dua buah jari aku langsung mengocok Vaginanya dengan cepat….cepaaaattttt…. teruuuuuussssss…..tanpa ampun hingga bibirku tersemprot oleh letupan orgasmenya…..
AAAAaAaaaaahhhh….dia menjepit wajahku dengan kedua pahanya….
Diapun mengambil posisi nungging dan berpegangan dijendela…..

“Dith…masukin aja, aku gak tahan lagi….. iiiiyyyyyyaaaa….aaaahhhhh Vi…..aku masukin” jawabku

ZLEB….ZLEEBB…ZLEEEEBBBBB…..ZLLEEEE….EEEEEB BBBBB……
Aku langsung masukkan semua ko*tolku dengan hentakan keras dan langsung menggoyangnya….seketika itu tubuhnya melomjak-lonjak mengikuti irama goyanganku….

OOOOOOHHHHH…..NNIIIKKMMMMAAAATTTTT…..desahnya sambil memegangi togenya yang bergerak liar seperti bola bowling……..uuuuuhhhh Diiiiiittthhhh….aku keluar lagi…..lagiiiii….mungkin karenaa ko*tolku yang gede menyumpal dan menyentuh penuh dinding Vaginanya dia jadi mudah orgasme….kurasakan semprotanya sampai 8 kali….
Aku angkat sebelah kakinya dan mengoyangnya ladi dan lagi….plak…plakk…plaaaakkkk…. suara pantatnya semakin membuat aku bersemangat…..

Dengan hanya bertumpu dengan satu kaki…tubuhnya semakin bergerak tak tentu….goyah dan payah menyangga besarnya nikmat yang diterima… hingga tubuhnya pun terjatuh ke lantai….
Ampun dith….jangan cepat-cepat…..aku gak kuat…..sambil merangkak….
Tanpa ampun aku menusuk Vaginanya dari belakang ZLEEEEEEEEEEBBBBBBBBBB…..

Aku goyang lagi dan lagi….sambil menjambak rambutnya biar tidak melepaskan ko*tolku dari Vaginanya….. sekitar 10menit kemudian tubuhnya mengejang tanpa kendali….. aaahhhh….aahhhh,…..uuuuhhhh…..oooooooooooohh hhhhh…..jeritanya disertai semprotan orgasme yang ketiga. Aaaaddduuuhhhh….Dith….kok kamu belum keluar juga sih….rengeknya…. “sebentar lagi Vi….kamu aja yang terlalu cepat” jawabku sambil menggendong tubuhnya ke kasur. Aku terlentangkan tubuhnya dan menarik kedua kakinya keatas….kearah dadaku…..ZLEEEBBB….ZLEEEE……EEBBBBBBBBBB…

Aku goyang lagi dan lagi….plak….plak….plaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk… …pantatnya tertabrak pahaku. Dengan berpegang pada togenya aku semakin menggenjot goyanganku….

Aaahhhh….aaahhhhh ampuuun dith….d*ncok ko*tolmu Dith….enak banget….aku gak kuat…. cepetan keluarin…. alkoholnya bicara tak tentu….mencoba melepaskan ko*tolku. Aku angkat pantatnya keatas dan memeganginya dengan kuat….hingga hanya menyisakan kepala dan pundaknya di kasur… jepitan pantatnya sangat nikmat….AAAAAaaaahhhh….. sebentar lagi Vi…..aku hampiiiiirrr……CROT….CROOOOTTTT…..CROOOOOTT TTT….. belum selesai aku ngomong, spermaku menyemprot deras kedalam Vaginanya….

Akupun menjatuhkan diri diatas tubuhnya…brruuuughhh…
Aduuu…uuuhhh…… kenapa kamu keluarin didalam??? Aku pengen melumatnya…..
Akupun membalikan badan “tuh masih ada sisanya…..
Vivi dengan ganasnya menjilat dan menyedot sperma yang tumpah ke sprei dan kemudian mengulum ko*tolku sampai-sampai tak ada sedikitpun sperma yang tersisa di ko*tolku.

Uuuuuhhhhh….nikmat baget Vi…hisapan kamu mantap!!! Pujiku sambil membelai rambutnya. “Heeemmmmmmm…..ko*tol kamu juga nikmaaaatttt….tubuhku sampai mengejang tau….nih memekku terasa ngilu….kesemutan gimana gitu….jawabnya. akhirnya kamipun terlelap ….. pagi harinya akupun buru-buru bangun dan siap2 ke kampus, aku lihat Vivi masih tertidur dengan lelap dan aku tak tega membangunkanya.

Siang harinya, Sheila menemuiku di kantin kampus dengan ekspresi wajah cemburu, marah, sebel….pokonya campur aduk dech. “semaleman ML pasti kecapean ya??? Sampai mata merah gitu….Vivi mana, masih kamu umpetin dalam kamar? Tanya Sheila bertubi-tubi, tapi aku diamkan aja tanpa jawaban…. malah gak jawab, kenapa sih harus dengan Vivi??? Emang gak ada cewek lain??? Dia itu cewek gak bener, lihat kan kami sebaya…. tapi Vivi tante aku, aku gak mengakuinya….dia anak haram. Tanpa menjawab akupun meninggalkanya dan menuju parkiran….dan sesuai harapan Sheila mengejar aku dan ikut masuk kedalam mobil. Kenapa ikut??? Tanyaku

“ayo cari tempat yang enak buat ngobrol…. ajaknya Sheila.

Akupun melaju mengikuti jalan yang diarahkan Sheila…..hingga kami sampai ke Dungus. Kami berhenti ditengah hutan….dan mengobrol panjang lebar, hingga….

“Vivi tau banget Kamu Tipe Cowok Impianku Dith, makanya dia ingin merebutmu dariku…. kata Sheila mengejutkan aku.
“maksudmu….. belum selesai bertanya Dia langsung menciumku dengan penuh mesra….
EMUAACH…..

Berikan aku lebih dari apa yang kamu berikan pada Vivi” bisiknya dengan nafas yang mulai tak tentu. Akupun langsung mengajaknya ke kursi belakang dan duduk mengakangi pahanya…. aku cium bibirnya dengan penuh nafsu dan langsung melepaskan satu persatu kancing bajunya yang sudah mulai sesak karena toge yang perlahan membengkak.

“kamu ingin Lebih nikmat kan??? Bisikku sambil melumat daun telinganya.
“heem…. jawabnya singkat
Tapi ada syaratnya Sheil,… terserah aja Dith, dari semalem aku sudah horny banget kamu panas-panasin…..

Akupun mengikat keatas dua tangan Sheila “kok diikat gini, kamu mau apa? Tanya Sheila

“tenang aja…aku akan memberikan kenikmatan yang bebeda….dengan mata tertutup kamu akan mendapatkan Surprise disetiap detiknya….kataku sambil menutup matanya dengan sapu tanganku. Setelah itu akupun melepaskan seluruh baju tanpa sisa…..dan memasukan Cdku ke mulutnya biar dia tidak bersuara keras….. Sheila agak terkejut dan coba berontak….

“maaf Sheil aku Cuma gak mau suaramu terdengar orang” kataku menenangkanya.

Aku langsung mencium dan menghisap lehernya Sheila…..cup…cup…cuppp…emuah
Aku mainkan tubuh Sheila sesuka hatiku, aku gigit lehernya sambil meremas toketnya yang seukuran 36B itu dengan keras….tubuh Sheila mulai berontak menerima kegelian dan kenikmatan tanpa bisa membalasnya…. aku hisap puting coklatnya dengan kuat sambil terus meremas yang sebelahnya…. tanpa sepengetahuanya aku ambil “vibrator” dari dalam laci….

Sesaat kemudian,…. aku nyalakan Vibrator Capsule (VC) dan menempelkanya mengelilingi bibir Vaginanya…seketika itu kedua kakinya bergerak liar coba mengurangi nikmat yang aku beri. Hhmmmmm…..mmmmm….uuummm….eemmmmm….. Sheila hanya bisa bergumam karena mulutnya masih tertutup. Akupun tak henti-hentinya memainkan togenya, menghisapnya dan menggelitiki dengan lidah…. sheila semakin mengerang, tubuhnya mengejang dan keringat yang bercucuran…. aku masukan VC maju mundur kedalam vaginanya….aku kocok-kocok….aku putar-putar….. terus dan teruuuusss….
Tubuh Sheila terlihat mulai melemas, desahanya lirih terdengar…. uuuhhmmmmmm…..mmmm………. akupun kasihan melihatnya dan melepaskan sumpalan dimulutnya….

“AAAAaaaaaagggghhhhh……jahat kamu Dith, kenapa kamu lakuin ini….. kata Sheila dengan nafas terengah-engah. “maaf Yank….tapi dengan begitu nikmatnya utuh kan??? Kataku….
“iyaa….yaaa…tapi seluruh tubuhku seperti terbang Dith….cepat masukin, sekarang juga….. Sheila merengek manja….

Aku arahkan ujung ko*tolku ke arah Vaginanya, menggesek-gesekan ke Vaginanya dan sedikit demi sedikit masuk….masuuukkkk….maju-mundur…..lebih dalam…..dan dalaaammm.

ZLEEEEBBBBB…..aaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh……Sheila meendesah panjang seiring tusukan ko*tolku kedalam vaginanya yang sudah sangat amat becek, karena 2 kali nyemprot…..

“Dithh….sssaaaa…..ssaaaakiiiiiiiiiiitttttttttt t….pelan….peelllllaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn … OOOOOOoouuuuuggggghhhh….. UUUuuuuuhhhhhhhhheeemmmmm…. Desahan panjangnya menjadi tanda ko*tolku telah mengoyak selaput dara Sheila…..

“masa sih…masih perawan???? Aku terkejut dan tak percaya melihat itu, tapi emang kenyataanya begitu….gumamku dalam hati.

Aku semakin menggenjot gerakanku….SLUP….SLUUUPPP….SLUUUUUUPPPP…..

“Dith lepasin tanganku dong….sakit nich… Sheila memohon dengan mata terpejam, menhahan kenikmatan yang menumpuk di Vaginanya…. akhirnya aku melepaskan ikatanya, tangan itupun langsung menjambak rambutku dengan kuat…. “Dith….aku mau nyemprot nich….. kata Sheila.
“tunggu bentar yaaa….kita semprotin bareng-bareng……jawabku sambil mempercepat laju ko*tolku…….

AAAAAAAaaaaaaaahhhhhhhh…….aaaaaaaaaaaaggggghhh hhh….. satu…….duuuaaaaaaa……tiiiii…..gggaaaaaaaa aaaaaa…….CROT….CROOOOOTTTTTT…… kami saling menyemprot dan berpelukan dengan erat…..tubuh kami lemas tanpa daya…..

Setelah beberapa saat mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada, kami merapikan pakaian kami dan pulang….. kejadian ini menjadi awal yang indah untuk “petualangan-baruku” di Kota Gadis….hampir setiap malam dan sepulang kuliah kami bersama berbagi nikmat dan syahwat. Hingga 2 bulan kemudian, karena Sheila akan dinikahkan dengan pilihan orangtuanya… akupun mundur teratur dan memutuskan untuk pindah kos

Setelah berhasil memikat dan menikmati anak ibu kost, gejolak nafsuku semakin menggebu beriringan dengan meningkatnya ke-PeDe-an dan kenekatanku. Targetku selanjutnya adalah Regina yang biasa dipanggil mbak Gina, orangnya cukup tinggi sekitar 170cm, BH 36B, badan bohay dan kulit putih…perawakanya seperti artis Sarah Azhari dech. Dia berusia 25 tahun serta mempunyai seorang putri bernama Nania yang baru berumur 1tahunan.

Sebenarnya aku ada niat untuk pindah kost ketempat Mbak Gina agar lebih mudah PDKT tapi ternyata khusus tempat kost putri. Tapi aku terus berusaha mencari tahu kebiasaan, kesukaan dan kesempatan yang mungkin bisa aku manfaatkan untuk sekedar mencicipi tubuhnya. Waktu yang aku tunggu akhirnya tiba, saat itu suami Mbak Gina sedang berada diluar kota tepatnya di Lumajang untuk membangun sebuah rumah sakit dan akupun sempat dititipi untuk menjaga atau sekedar membelikan susu anaknya.

“Dith…ikut nitip ya, kalau susunya habis tolong kamu belikan! Pinta Mas Yanto
“iya Mas,…
“jangan sungkan2 ya Mbak, kalau butuh bantuan bilang aja…kita kan bertetangga” sambungku pada Mbak Gina.

Sepeninggal Mas Yanto pergi bekerja, otomatis hanya ada seorang ibu muda dan balita yang ada dirumah maklum tempat kostnya berada diseberang jalan dan kurang dekat walaupun yang ngekost cewek2. Tiga hari berlalu, segala usaha sudah aku coba untuk memancing rasa dan memantik simpatik tapa belum membuahkan hasil. Sempat aku berfikir untuk menyerah karena Mbak Gina sepertinya istri yang setia. Hingga akhirnya pada hari keempat, sekitar pukul 22:30 malam aku terbangun oleh suara tangisan Nania…akupun langsung berlari menuju rumahnya dan mencari tahu kenapa??? Ternyata cuma terbangun karena kegerahan….

“Dik tolong gendong sebentar ya, soalnya kalau ditempat tidur akan semakin kencang tangisanya….aku mau masak air bentar untuk membuat susu….. kata mbak Gina.
“iya Mbak, sini coba aku gendong….. jawabku

Saat aku ulurkan tangan untuk menggendong tiba-tiba sarungku melorot dan jatuh kelantai, spontan aku merasa malu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tanganku sudah menggendong Nania.

“maaf Mbak….bisa pasangkan sarungku gak??? Pintaku dengan malu…….tanpa menjawab Mbak Gina memakaikan sarung kebadanku dari belakang, saat melipat dan menggulung bagian depan tangan Mbak Gina secara tak sengaja menyenggal CDku yang didalamnya ada ko*tol yang tegak lurus berdiri (maklum sebelum tidur ngebayangin yang hot-hot dengan mbak Gina).

Sesaat tanganya berhenti seakan menyadari apa yang disenggolnya kemudian memakaikanya kembali. Kenapa aku malu ya? Ini kan bisa memancing birahinya??? Pikirku dalam hati. Sepuluh menit berlalu mbak Gina datang membawa sebotol susu tapi tak kusangka Nania sudah tidur dipelukanku.

“udah tidur mbak….kasihan kalau dibangunkan lagi untuk minum susu, coba aku tidurkan di kasur ya??? Kataku
“ya udah coba aja….trus susunya gimana??? Mbak Gina balik bertanya.
“nanti susunya buat aku aja mbak….Heeeee tapi gak pakai botol ya?!!!” jawabku sambil bercanda sekaligus memancingnya.
“emang susu yang mana?! Mbak gina balik bertanya lagi.

Belum sempat aku menjawab, Nania kembali menangis saat tanganku aku tarik perlahan.

“mbak…kelihatanya aku gak boleh pulang nih ama Nania??? Dikira bapaknya kali ya??? Candaku
“iya kali,….tapi Nia nangis kalau digendong bapaknya??? Jawab mbak Gina

Berulang kali kucoba menjauh dari Nania, tapi anehnya dia tahu kalau aku akan pergi. Akhirnya dengan terpaksa mbak Gina menyuruh aku tidur dikamarnya menemani Nia….

“tolong kamu tidur disini ya??? Biar aku tidur didepan tv aja….tapi nanti waktu pulangnya jangan sampai ketahuan tetangga! Pinta mbak Gina
“iya Mbak….. Horeeee….teriakku dalam hati

Satu jam berlalu, aku terjaga sendirian tak ada Mbak Gina untuk sekedar obat kantuk…. Mbak Gina dimana ya, kok gak ada suaranya???? Tanyaku dalam hati.

Akupun mencari akal, aku tarik tanganku dan menggantinya dengan tangan Winnie The Pooh dan ternyata berhasil. Pelan2 aku langkahkan kakiku, mencari tahu dimana Mbak Gina tidur. Niat awalku hanya untuk sekedar dekat atau mengintip kalau-kalau ada pemandangan cantik. Dua kamar sudah aku periksa dan tidak ada….terlihat lampu kamar mandi menyala tapi kenapa pintunya terbuka??? Tanyaku penuh kebingungan. Aku terus mendekat dan mengendap-endap, hingga aku sangat terkejut melihat Mbak Gina sedang ngewek memeknya dan bersabun ria tengah malam…..

Spontan ko*tolku langsung mengeras dan nafsuku semakin menggebu-gebu melenyapkan batas malu dan ragu. Aku buka sweeter, kaos, sarung dan CDku….kubulatkan tekad dan kuhampiri Mbak Gina yang merem melek ngewek memek….

“aku bantu ya mbak…. kataku sambil memegang dan mengocok-ngocok ko*tolku yang panjang dengan urat dan otot yang kekar menjalar.
“….. mbak gina tak berkata apa2, rasa malu, terkejut, takut dan nafsu bercampur dengan birahi tinggi….

Akupun langsung menyodorkan ko*tolku didepan mbak Gina yang sedang duduk, tepat didepan mulutnya yang berlilau terbias sinar lampu. Mbak Gina ragu, diam membisu seakan terpaku terhipnotis ko*tolku….

“wooooww….kata mbak Gina

Saat mulutnya terbuka aku langsung mengarahkan ko*tolku kemulutnya….aku gesek-gesekan hingga kewajah dan leher…. perlahan tanganya mbak Gina memegang ko*tolku dan mengelusnya…. mengurutnya…. mengocoknya dengan pelan.
OOOOHHHHH…..nikmat banget Mbak…..ayo terus jangan berhenti” kataku dengan nada mendesah.

Mbak Gina sangat pandai blowjob, sampai-sampai membuat kakiku gemetar karena nikmat yang teramat sangat. Sepuluh menit kemudian blowjobnya semakin dahsyat hingga kakiku lemas dibuatnya.

“pindah ke sofa aja ya mbak??? Ajaku padanya
‘iya….ayooo….. jawabnya singkat

Kami berjalan beriring dengan bibir saling berpagut dan berpelukan, seakan tak rela bila ada nikmat yang terlepas walau hanya sedetik saja. Sampai disofa mbak Gina langsung mengambil posisi duduk dengan kaki mengangkang membentuk huruf ‘M”. Aku ciumi sekujur tubuh Mbak Gina, bahkan aku selingi dengan hisapan dan gigitan, dari ciuman di bibir, turun ke leher, menghisap toketnya bergantin dikiri dan kanan sambil tangan kananku membelai-belai je*butnya yang yang tumbuh subu r disekitar memek tembemnya……

Hhmmmm…..aaaahhhhhmmmmm…… Mbak Gina mendesah, tubuhnya bergerak tak menentu. Melihat itu aku semakin bersemangat menggelitik titik-titik G-spotnya terutama disekitar memek tembemnya. Aku jilatin bibir memeknya dan aku kocok-kocok dengan jari telunjukku.

“Aaahhh….Ooooouughh……heemmmmmmmmmmmmmmm” Mbak Gina semakin mendesah liar sambil menjambak rambutku.
“…Dith…..ayo Dith….masukin aja, aku udah gak tahan nih” rengek Mbak Gina memohon
‘iya….Mbak, tahan sedikit ya….. jawabku.

Sebelum aku masukin, ko*tol aku gesek-gesekan bibir vaginanya….

“ayooo…doooong masukin, ggeli bangeeeettt….. kata Mbak Gina memanja sambil menjepit ko*tolku dengan pahanya.
“iyaaa…..mama Gina Cayaaaang…. jawabku

aku masukin ujung ko*tolku sedikit demi sedikit….tarik…..dorong…..pelan-pelan dan terus…
OOOOooouuuuhhhh…..sesak banget Dith, dua kali punya mas Yanto….HHMMmmmmm…..

Setelah berulang kali maju-mundur akhirnya ko*tolku masuk juga, tapi belum sepenuhnya masuk….aku goyang….goyaaanngggg……goyang….terus dan teruuuuuuussss…..
ZLEB….ZLEEEBB……ZLEEEEEE….EEEEEEEEEEBBBBBBB BBBBB……
ooUUUUUhhhh…..nikmaaaattt banget mamaaaa….. bisikku lirih.
Memek mama Gina semakin becek dan banjir, licin dan nikmaaaaatttttttt…..
Oh….ooooouuuggghhh…..Dith aku mau keluar….uuuutan uuuhhhhhhh……aaahhhhhhh……

Kurasakan semprotan hangat dari memeknya…..aku angkat kedua kakinya dan mempercepat goyanganku, semakin dalam dan teruuuuuussssss…..

Toket mama Gina bergoyang-goyang mengikuti irama hentakan ko*tolku….

“ko*tol kamu mantap banget Dith….aku….a…kk…uuuu…..belum pernah ngerasain yang kayak gini…. kata Mama Gina dengan nafas yang terengah-engah….

Ganti posisi ya maaa….doggy style aja biar lebih mantap” ajakku

Mama Gina pun memutar tubuhnya dan nungging disofa tanpa melepaskan ko*tolku dari memeknya, isyaratkan bahwa ko*tolku adalah miliknya. Aku masukan ko*tolku hingga pangkalnya dan menggenjot goyangan…..PLAK….PLAK….PLAAAKKK…. suara becek bercampur dengan suara pahaku menghentak pantatnya.

Aaahhhh…..ouuuhhmmmmmmmm……enek banget maaa….. bisikku lembut sambil berpegangan pada kedua toketnya.
ayo keluarin bareng ya??? Pinta mama Gina dengan manja.

“iya mamaaaa…..ayooooooo…….satuuu….duuuaaaaa… …tigaaaaaa……

AAAAAHHHHHHHHH…..CROT….CROOOOTTT……CROOOOOO TTTTTTTTTTTTTT………

OOOOOOUUUuughhhhh…..aaaaaaaaaaaaaaaa………… desah mama Gina merasakan puncak kenikmatan….. aku sempat panik, takut ada yang mendengar desahan mama Gina…. aku tutup bibirnya dengan ciuman dan aku gulingkan tubuhnya dalam posisi tidur miring,….. aku gerakkan ko*tolku yang masih keras….pelan….pelaaaannnn…..
Kurasakan memeknya benar2 penuh terisi spermaku….begitu hangat menghangatkan kebersamaan kami……Oooohhhhh sungguh nikmat kurasakan,….entah mengapa ko*tolku masih begitu keras bahkan ingin terus menggoyang memek mama Gina sampai pagi.

“maa….lanjut yuuuk???? Masih tegang nih…. bisikku ke telinga mama Gina…..
‘….sama aku juga masih pengen, tapi perutku sakit banget…. rengeknya mama Gina
‘ko*tol kamu gede n panjang banget….masih ada 4hari sebelum Mas pulang, asal aman kita bisa mengulangnya semau

kita…..sambungnya dengan kata yang mesra,,,,

Tak terasa kami ketiduran disofa, berpelukan tanpa sehelai baju dan ko*tol yang masih menancap kuat di memeknya. Hingga menjelang subuh, kami dibangunkan oleh tangis Nania…..

4 hari rumah mbak Gina bagaikan Surga dan kami adalah Adam dan Hawa yang sedang dimabuk cinta (terlarang) bahkan berbulan madu…. bahkan dihari terakhir sebelum suaminya datang, sepulang kuliah aku langsung menghampirinya dan otak kami dipenuhi sex, sex dan sexxx hingga pagi menjelang….kami benar2 hypersex yang tak pernah terpuaskan…..

Tiga hari saat suaminya dirumah, aku sangat tersiksa….ada cemburu di hatiku….sangat sakit dan ini dirasakan juga oleh Mbak Gina…..memeknya mati rasa saat dientot suaminya, hatinya menolak bahkan dia sempat berfikir sedang ‘diperkosa’ suaminya. Setidaknya itulah yang diceritakan mbak Gina kepadaku….

Perasaan kami sangat dalam, namun karena resiko “selingkuh” yang terlalu tinggi karena kostku disamping rumahnya dan udah kenal baik dengan suaminya….aku berniat mundur teratur tapi Mbak Gina menolaknya bahkan meminta suaminya untuk membujuk aku agar tinggal dikostnya gratis dengan alasan aku sudah dianggap adiknya Mbak Gina. Tapi aku tetap menolaknya dan terpaksa pindah kost lag

Lama juga aku tidak upload cerita, kangen banget dengan komentar agan-agan semproters!!!
Aku pekenalkan diri lagi ya Gan? Namaku Adith, cerita ini aku alami saat duduk di bangku kuliah salah satu

Universitas swasta di kota Madiun. Saat itu sedang libur semester namun aku masih males banget untuk pulang kerumah, jujur aja saat itu aku bingung harus mengisi liburan dengan apa dan kemana. Dengan sangat terpaksa aku tetap tinggal di kost-kostan sambil nunggu Icha (Doi-ku) balik dari mudiknya di Lampung. Hari pertama libur aku berniat untuk bangun siang dan malas-malasan aja, namun yang terjadi tidak demikian. Jam 07:30 pintu pagar terdengar ada yang membuka dan benar saja, satu menit kemudian ada yang mengetuk pintu….

Tok…tok…tok….assalamualaikum, Mas….Mas Adith….Assalamualaikum
‘wa alaikum salam” aku jawab dengan jengkel karena masih mengantuk.
…..eh Pak RT, maaf baru bangun” sambungku.
‘Maaf Mas, cuma mau nyerahin ini aja (amplop kosong ) tolong nanti malam hadir dirumah saya sebagai perwakilan yang ngekost disini….sekalian sumbanganya buat kegiatan RT’ jawab Pak RT panjang lebar.
“ooo…iya Pak, terimakasih” jawabku

Pak RT pun langsung balik kanan dan maju jalan meninggalkan tempat kost-ku.

“apes banget nih, kesepian di kost….malah dapat bonus ngasih sumbangan” gumamku dalam hati.

Untuk menghilangkan pusing, akupun mandi dan langsung kerumah Pak RT untuk mengembalikan amplop yang sudah aku isi karena aku males kalau harus ikut ngumpul malam harinya…

“lebih baik cuci mata di matahari” kata hatiku.

Karena rumahnya hanya berjarak 300 meteran dan biar kelihatan terburu-buru untuk alasan gak bisa datang malam harinya, aku kerumah Pak RT dengan hanya menggunakan celana pendek boxer dan T-shirt tipis aja. Akupun langsung mengetuk pintu dan memanggil-manggil Pak RT tapi tak ada jawaban, akhirnya aku putuskan untuk lewat pintu belakang. Namun hasilnya sama, tak ada jawaban… bingung mau tanya siapa, karena rumah Pak RT agak terpencil dikelilingi kebun tebu.

‘Cari bapak ya Mas?” tiba-tiba suara ibu RT mengejutkan aku dari belakang
‘……….ooo……iiiiii…iiiyyyyaaaa Bu! Jawabku dengan gugup.

Asal tahu aja Ibu RT (namanya Tante Wulan) keseharianya memakai jilbab dan selama 2 bulan aku nge-kost disini hanya wajah cantiknya yang aku lihat hingga terbayang-bayang waktu tidur. Tapi yang aku lihat sekarang sungguh sangat berbeda, rambut panjangnya terurai basah, dengan kulit yang sangat-sangat putih mulus dari pundak sampai lengan dan sebagian pahanya kebawah apalagi toketnya yang samar-samar terlihat bagian atasnya. Yaaahh… tante wulan hanya memakai handuk, sepertinya baru aja mandi tapi dimana kok asalnya dari kebun tebu??! Aahhh….udahlahhh….

‘kok bengong Dith….” tanya Tante Wulan.
“….aaaa….aanu ….muluussss” jawabku mengigau terhipnotis kemulusanya.
“eehhhh…maaf Bu, maksud saya Ibu darimana kok di belakang?? Kataku buru-buru untuk menutupi malu dan jawaban ngawurku.
‘maaf Mas, tolong jangan dijalan aku mau masuk kerumah… jawabnya agak menunduk malu.
“…ooo…maaf Bu, silahkan” jawabku sambil memberi jalan.

Tanpa berkata-kata Tante Wulan berjalan dengan tergesa, namun saat menginjak anak tangga yang ketiga di depan pintu belakang Tante Wulan terpeleset dan jatuh. Aku diam mematung, melihat keindahan yang lebih dari sekedar mulus….handuk yang membelit tubuhnya terlepas dan tubuhnya jatuh kesamping….sampai-sampai suaranya mengaduh tak aku hiraukan, panca inderaku telah tertutup oleh gejolak nafsu yang berkobar tak menentu.

‘aduh…aduh…kakiku sakit….tolong aku Mas??? Pintanya merengek.
”…………………. tanpa berkata aku mendekatinya dan langsung menggendongnya kedalam rumah.
‘Mas….sini aja Mas, jangan ke kamar….nanti dilihat orang jadi fitnah” katanya dengan nada keras
“Mbak…aku boleh memanggil Mbak kan? Jangan memikirkan orang lain, pikirkan aja kaki Mbak… kalau keseleo atau lebih parah lagi bagaimana???? Kataku coba merayu

“kalau ada yang melihat pakaian Mbak seperti ini sedang bersama aku, pasti sama saja kan? Lebih baik kan dikamar, gak mungkin ada yang melihat…. kalau Mbak malu, itu sudah telat Mbak….tadi waktu mbak jatuh….aku sudah melihat semuanya mbak!!! Jawabku menenangkan dan mengambil hatinya.

‘PLAKKKKKK…..kenapa kamu intip??? Katanya saambil menampar wajahku dengan keras.
“kenapa Mbak tampar aku? Aku kan menolong Mbak….lagian aku gak ngintip, tapi aku melihatnya…. aku gak bisa untuk tidak melihatnya Mbak, tubuh Mbak sangat indah bahkan lebih indah dari tubuh pacarku” rayuku sambil memegang kedua tanganya agar gak menampar aku lagi.

‘hiks….hiks…… tiba-tiba Mbak Wulan menangis terisak, lupa dengan handuk yang dari tadi dipeganginya.
“Mbak, jangan berpikir negatif Ya? Jangan bergerak apalagi berjalan, nanti kakinya jadi bengkak lho…istirahat aja aku ambilkan minyak urut dulu” kataku sambil merebahkan dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Aku buru-buru kembali ke kost untuk mengambil minyak urut….

“aku harus bermain cantik, menjadi ‘pahlawan rahasia’ untuknya tapi juga harus menjadi ‘pejantan rahasia juga karena Mbak Wulan belum mempunyai anak, mungkin karena Pak RT (Tono) sudah terlalu tua sekitar 45 tahun sedangkan Mbak Wulan Baru 27 tahun“ bisikan nafsuku.

Aku langsung kerumahnya Mbak Wulan sambil berlari karena sedang gerimis, bersama minyak urut aku bawa serta 3Pcs kondom dan 2 butir obat perangsang. Aku langsung menuju kamar tengah, tempat dimana Mbak Wulan terbaring bugil…

“ini Mbak….tolong diminum obatnya, 2 butir sekaligus ya Mbak??? Kataku sambil memberikan obat dan segelas air.
‘waktu kesini ada orang yang melihat apa tidak Dith? Katanya dengan lirih
‘tidak Mbak, kan lagi hujan….sepi Mbak jangan mikir macam-macam, cepetan diminum ini obat pereda nyeri kok’ kataku sambil memijit pelan kakinya.

“iya….makasih banget ya? Maaf aku sudah berpikir negatif….tapi tolong ya, abis ini cepetan balik dan titip tutup pintunya” katanya dengan tatapan mata yang dalam.
‘iya….ini minyak urutnya….aq balik dulu, inget ya jangan dibuat jalan tunggu Pak Tono aja’ jawabku dengan hati sebel dan kesal karena diusir secara halus.

Aku langsung berjalan keluar kamarnya menutup pintu belakang dan pintu depan, TAPI…. aku diruang tamu menunggu obat perangsangnya bereaksi. Sebatang rokok sudah habis aku hisap, obat kuat udah aku telan bulat-bulat, lima belas menit sudah berjalan mendekatkan aku pada surga dunia. Pelan-pelan aku menuju kamarnya, aku sibakkan kelambu dipintunya sedikit-demi sedikit mengintip reaksinya…..
Wow…ternyata sudah siap saji ditandai dengan keringat yang mengkilat ditubuhnya yang terbuka karena kegerahan dan dahaga….

“maaf Mbak….aku kembali, aku gak tega meninggalkan seorang yang sakit sendirian apalagi seorang wanita dan gak bisa berjalan” kataku pelan sambil berjalan menuju tempat tidurnya.
‘kamu balik lagi….kamu baik banget….maaf Mbak buka baju, gerah banget nih…. katanya dengan manja dan tidak malu-malu lagi.
“berarti obatnya sudah bekerja Mbak, aku pijitin ya biar lebih cepat sembuh” jawabku dengan hati-hati karena obatnya belum bereaksi penuh dan satu lagi obat perangsangnya gak membuat tidak sadar tapi hanya membuat nyaman dan cinta.
‘andai aja aku belum menikah, pasti aku mau banget menjadi pacar orang sebaik kamu! Jawabnya mesra
“emang ada larangan ya Mbak, orang bersuami mempunyai pacar? Kan gak ada undang-undangnya? Jawabku ngelantur mengikuti nalurinya yang sudah ngawur tapi logis.
‘iya juga ya? Kita pacaran aja ya? Tapi kalau ada yang tahu bagaimana? Katanya genit
“kita ngumpet aja, kita ketemuan di kebuntebu belakang….kan bisa sms!! Jawabku
‘iya…iya….kita jadian sekarang ya??? Jawabnya sambil menarik tubuhku hingga jatuh dipelukannya.
“okey…. jawabku singkat sabil mencium bibirnya.

Mbak Wulan membalas ciumanku dengan ciuman yang lebih menggebu, melumat bibirku, menghisap liurku dan memilin lidahku dengan lidahnya….. tanganya melepas kaos dan boxerku dengan cepat dan langsung mengambil alih tongkat ‘ko*tol’ komando yang sudah mengacung tegak dan keras.
‘oooohhhh….uuuhhhhh….hisap tetek aku ya sayaaaaa…..aaaaanggggg’ bisiknya lirih ditelingaku.
“iya sayaaaang…..jawabku

Aku remas toket (36B) kirinya dan menghisap yang sebelah kana, memainkanya dengan lidah dan selingan gigitan-gigitan mesra. Tubuh Mbak Wulan mengejang dan bergelinjang tak menentu menahan nikmat yang teramat sangat. Sepertinya obat perangsang telah membuat inderanya lebih sensitif…..

‘HHhhmmmm…..ooooouuuhhh……hhhhmmmmm….. desahan dan gumam Mbak Wulan semakin keras, membuat aku sempat takut ada yang mendengar tapi juga membuat aku semakin bernafsu dan gemes.

Akupun berinisiatif mengambil posisi 69, digenggamnya ko*tolku dengan erat dan mulai mengocoknya dengan pelan…sambil mengeyot-enyot ujung ko*tol dengan hisapan dan jilatan yang sangat nikmat. “iya sayang….teruuus…..ooooohhhh….nikmat banget hisapan kamu” desahanku.

Aku gigit pangkal pahanya yang putih mulus, aku belai bibir memeknya dengan jari…. rasa geli yang tak tertahan membuat kakinya mengejang….menjepit kepalaku dengan kedua pahanya. Memaksa wajahku berlabuh dimemeknya yang sudah basah….aku jilatin memeknya yang masih sangat merah dan indah….menghisap bibir memeknya dan menggelitik klitorisnya dengan lidahku…..

OOOooohhhhh….AAAaaaaaaggghhhhhh……aaaaaaaaaaa aaaahhhhhhh…….ooouuuuhhhhhhhhh…..

Desahan Mbak Wulan semakin menjadi dan Crit….Criiiittt….Crrriiiiiiittttttt….. tiba-tiba semprotan kecil keluar dari memeknya. Jujur aku sangat terkejut dan takjub, ini pertama kalinya aku melihat langsung wanita orgasme sampai bisa nyembur keluar dengan kencang dan deras.

Tak mau kehilangan momen, aku langsung menarik ko*tolku dari mulutnya dan mengangkat kedua kakinya keatas….aku gesek-gesekan kepala ko*tolku ke lubang memeknya…..terus dan teruuuuss

“ayooo….sayaaang, cepetan masukin aku sudah gak tahan….. rengek Mbak Wulan.
“Iya sayang…aku masukan sedikit demi sedikit, pela-pelan, maju mundur bergoyang teratur…. karena sepertinya memeknya masih sempit walau sudah orgasme atau mungkin juga ko*tolku yang kegedean apalagi setelah minum obat kuat, ototnya keluar semua dan keras.

Setelah berulang kali keluar-masuk dan aku rasa sudah sangat licin akupun langsung menghujamkan ko*tolku kuat-kuat kedalam memeknya…..ZLEB….ZLEEEEEBBBB….ZZZZLLLEEEEEEB BBBBBBBB……

AAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH…….SAKIIIIIIIITTT SAAAYYAAAAANNNGGGG!!!!
Mbak Wulan berteriak keras sambil menjambak rambutku…..ooooohhhhh…..gede banget sayang…. panjang kayak lengan akuu….uuuhhhhh….ayo genjot sayang, goyang yang cepat…..
Aku goyang….lebih cepat….lebih cepat….lebih dalam….terus….dan teruuuuuuuuussssssssss…….
Ah…ah…ah….ah…ah….ah….ah….ah…ah…a h…..

Sayaaaang aku keluaaarrrrr laagiiiii…..crit….crit……memeknya nyemprot ko*tolku dengan kuat dan membuatnya semakin licin dan becek….pyek…pyeek…..pyeeekkkk…..suara ko*tolku membombardir memeknya…..
Udah sayaaanggg…cepetan keluarin……rengeknya sambil mencakar-cakar dadaku, sangat liar dan binal….seperti sudah seribu tahun menahan birahi dan memendam nafsu dengan jilbab dan kealimanya.

“tunggu bentar lagi sayang….ganti posisi ya? Kamu nungging?! Bisikanku lirih ditelinganya.

Mbak Wulanpun menunggingkan pantatnya…karena membelakangiku Mbak Wulan tidak tahu aku tambahkan Ring dan Kondom berduri ke ko*tolku.

Tahan sedikit ya??? ZLEB….ZLEEEEEEEEEEEEEEBBBBBBBBBBBBB…………. aku langsung menghentakkan ko*tolku ke memeknya, sekarang ko*tolku semakin gede dari sebelumya yang memang sudah lumayan gede (P:19cm-D:5,4cm)
AAAAAHHHHHH…. Mbak Wulan seketika menjerit dan langsung terjatuh dari posisi doggy style-nya. Walau posisinya tengkurap aku terus menggoyangnya dengan liar….
O
H….AH….UUUHHHH……periiiiiihhhh sayaaaangggg….

Sepuluh menit aku memaksakan goyanganku, tiba-tiba tubuhnya mengejang dan kaku….
Akupun berhenti sejenak dan memeluknya dengan ko*tol masih menancap di memeknya.

“kamu gak apa-apa kan? Bisiku sambil melumat telinganya
‘kamu jahat banget….sejak nungging tadi aku udah keluar 3 kali, perut aku sakit banget seperti kram…cepetan semburkan spermamu, aku ingin baby darimu, mas tono gak bisa ngasih…. katanya.

Ya udah, kita miring aja ya? Aku goyang dari belakang…jawabku.
Kondom dan Ring aku lepaskan dan kembali menggoyangnya…..pyek…pyek….pyekkkkk….
Suara memeknya sudah sangat amat becek sekali….aku goyang…lebih cepat…. lebih cepat…. lebih cepaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttt…….sesaat kemudian….
Saaayyyyyaaanggg….kita semprotin bareng ya…..1…..2…..3…..CROT….CROOOTTT….CROT
Aku tumpahkan spermaku didalam memeknya, sambil terus menggoyangnya pelan-pelan….

“bagaimana sayang, kamu puas apa belum??? Kataku manja
‘puas buangets….sayaaang….” jawabnya tak kalah manja sambil melumat bibirku.

Kami berpelukan mesra nan manja seakan kami adalah sepasang suami istri yang honeymoon, seakan ini kamar kami, seakan ini rumah kami…..seakan-akan tak mau lepas…..

Setengah jam kemudian dengan iringan suara bedug, kamipun membereskan kamar agar sewaktu Pak Tono pulang gak curiga apalagi tahu. Kaki Mbak Wulan tanpa aku sadari sudah sembuh dan bisa berjalan normal waktu menuju kamar mandi…..

“mbak, kakinya sudah gak sakit??? Tanyaku heran
‘udah, lumayan….. jawabnya santai sambil berjalan menuju kamar mandi yang ada di sebelah kebun tebu.
Hujan masih deras sederas aliran nafsuku yang masih menggebu, namun apa daya waktunya sudah mepet sebelum Pak RT datang.

Malam haripun tiba, keinginanku untuk kembali mengulang kenikmatan tadi siang kembali datang dan tak dapat aku halangi. Waktu menunjukkan Jam 19:00 tepat, satu persatu warga datang untuk memberikan sumbangan dan musyawarah bersama untuk pembuatan gardu untuk siskamling. Aku yang awalnya berniat untuk tidak datang akhirnya terpaksa datang untuk sekedar mengantar amplop yang tadi siang tidak jadi aku berikan sekaligus untuk mencari tahu situasi dan kondisi rumah Pak RT. Setengah jam berlalu dan musyawarah dimulai…. setelah aku rasa aman akupun SMS Mbak Wulan untuk mengajak ketemuan dibelakang rumah.

Tit…tit…tit….tit…. Hpku berbunyi, membawa pesan “Okey, aku ke kamar mandi…. gak tahukenapa, tapi aku kangen bangeeet….tapi jangan macam-macam ya? Banyak orang….

Tanpa membalas sms aku langsung pamit dan berjalan memutar menuju kebun tebu belakang rumahnya. Aku perkirakan ada waktu sekitar 1 jam aman untuk berkangen ria sebelum rapat Rtnya selesai. Sesampainya di depan pintu kamar mandi aku langsung membukanya dan masuk kedalam….

Sesaat kami saling pandang dan berbagi senyum….kami langsung berpelukan dan berciuman dengan penuh mesra….tanganku langsung turun kebawah, meremas pantatnya dan mengangkat jubahnya keatas….hemmmmm ternyata Mbak Wulan sudah siap tidak memakai CD….aku angkat kaki kirinya keatas bibir bak mandi dan langsung kumainkan memeknya yang ternyata sudah basah, dengan mudah 2 jariku keluar-masuk dan menari didalam memeknya….

“memek kamu sudah siap yah?? Bisikku
‘iya….buruan masukin keburu orang-orang pulang…. jawabnya singkat!
“iya….emut ko*tolku bentar yah, biar licin masuknya” kataku

Mbak Wulan langsung jongkok dan melumat ko*tolku dengan lahap….tanganya menggenggam kuat pangkal ko*tol dan mengocoknya dengan cepat…..

Ooouuuuhhhh…..buruan nungging, aku masukkan…..

ZLEEEEBBBB….ZLEEEEEEEEBBBBBB……ko*tolku memenuhi ruang di memek hangatnya, aku goyang….maju-mundur…..aku tarik kedua lenganya kebelakang untuk pegangan dan aku goyang lagi lebih cepat….lebih dalam dan teruuuuuusss……
mmm….mmm….uuuuuhhhh….. Mbak Wulan hanya bergumam tidak berani mendesah atau berteriak liar seperti tadi siang. Keringat kami bercucuran karena kami masih berpakaian lengkap hanya membuka seperlunya saja.

“mbak…kalau kita mudah kangen terus bagaimana?? Tanyaku
‘aku juga gak tahu….aku gak bisa menahanya….jawabnya dengan suara terengah menahan goyanganku.
“kemarin…yang kesini siapa Mbak? Tanyaku
‘ooo…itu Adikku, namanya Dian….awas jangan macam-macam lho Dia anak Pondokan?! Jawabnya Mbak Wulan
“enggak bakalan Mbak….justru bisa buat tutup hubungan kita, bantu PDKT ya mbak? Kalau aku jadian kan Pak RT gak curiga dengan kita….kataku
‘maksutnya? Gak usahlah…adikku gak neko2….jawabnya Mbak Wulan.
“aku gak akan neko2 juga kok Mbak….jawabku sambil terus menggenjot goyanganku.
‘buruan…aku hampi keluar….nanti sms aja…. jawabnya
“ayo semprotin bareng….1…..2…..3….CROT…CROT…CROOOOOTT T…..

Kami benar-benar nyemprot bareng dan tak sempat bermanja-manja lagi karena wakru satu jam telah usai. Aku langsung berlari menuju kegelapan malam….kegelapan kebun tebu….

Hubunganku dengan Mbak Wulan tetap berjalan backstreet bahkan hingga aku lulus kuliah dan dikaruniai seorang anak yang amat cantik….secantik Ibunya….TOLONG JAGA BUAH CINTA KITA YA MBAK????

Nonton Movie Online

Thursday, January 3, 2019

Dampak Film Porno

January 03, 2019
Dampak Film Porno
Cerita Dewasa - Suatu hari di awal bulan Juli tahun 2000 lalu di rumahku kebetulan sepi. Sore itu ibuku sedang pergi ke luar kota dan ayahku sedang kerja di kantornya. Kuundang kedua temanku yang juga sering kukhayalkan bercumbu denganku. Ambar dan Ully. Mereka berdua sama-sama mempunyai payudara yang sama besarnya dengan punyaku. Kami lalu bertiga menonton VCD yang sengaja kuputar film porno yang kupinjam dari sebuah rental. Kami bertiga duduk berdampingan di kursi sofa. Ambar di sebelah kiriku dan Ully di sebelah kananku.

Pada waktu adegan kedua baru mulai vaginaku sudah terasa basah dan tanganku masuk ke celana jeans pendek ketatku. Kebetulan aku sengaja tidak memakai CD sehingga jariku langsung masuk ke vaginaku dan menggeseknya. Ambar melihat perbuatanku dan tangannya juga ikut masuk ke vaginanya sendiri. Tanganku lalu meremas kedua payudaranya yang masih dilapisi kaos oblong yang dikenakannya. Dia tidak menolak dan bibirnya mencium bibirku serta tangannya meremas juga kedua payudaraku. Kami saling meremas dan lidah kami saling menjilat di dalam kehangatan ciuman. Ully yang berada di belakangku bergabung dengan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Lalu Ambar kutidurkan dan kulepas kaos yang kukenakan.

Setelah itu kutindih dia sambil kuciumi wajahnya. Ully melepas BH-ku dari belakang sehingga aku melepaskan ciuman dari wajah Ambar. Aku akan membalik untuk mencium Ully, tetapi dia dari belakang meremas kedua payudaraku yang sudah telanjang dan tangan Ambar melepas retsluiting celana jeans pendek ketatku. Jarinya berusaha masuk ke vaginaku yang bertambah basah.

Tiba-tiba telepon yang ada di rumahku berdering. Aku tanpa memakai pakaian yang tadi dilepas bangkit ke meja telepon. Ternyata telepon dari ayahku yang mengabarkan bahwa dia tidak pulang karena ada urusan. Aku merasa senang dan berencana mengajak Ambar dan Ully menginap di rumahku. Aku meletakkan gagang telepon dan menuju ke kursi sofa. Kulihat Ambar dan Ully sudah sama-sama hanya memakai pakaian dalam saling berciuman dan mencoba melepas BH yang dikenakan. Kukejutkan mereka dan kukatakan bahwa pemainan ini terpaksa harus berhenti sementara. Mereka kuminta pulang dulu dan kusuruh datang pukul 8 malam untuk melanjutkan permainan. Mereka setuju.

Malamnya Ully datang pertama kali. Karena aku tidak sabar begitu dia masuk dan aku menutup pintu, aku memeluknya dari belakang dan kuremas kedua payudaranya. Kudengar bel pintu. Aku melepaskan pelukanku dan kusuruh Ully langsung ke kamar. Aku membuka pintu dan ternyata Ambar telah datang. Langsung saja kami masuk kamar. Kulihat Ully sudah tinggal memakai pakaian dalam saja sedang tiduran di tempat tidur. Kusuruh Ambar untuk mencumbunya dulu. Ambar langsung melepas pakaiannya dan ternyata dia tidak mengenakan BH hanya memakai kaos singlet dan CD.

Dia lalu menghampiri Ully dan mendudukkannya. Dia lalu mencium Ully dan tangannya melepas BH yang dikenakan Ully. Sedangkan Ully melepas kaos singlet yang dikenakan Ambar dan aku yang berdiri hanya memakai gaun tidur tanpa pakaian dalam langsung terangsang. Kulepas gaun tidurku. Ambar yang melihatku langsung turun dari tempat tidur diikuti Ully. Ambar mendorongku sampai ke tembok lalu mencium bibirku dan meremas payudara kiriku. Sedangkan Ully jongkok di samping kakiku dan kaki Ambar lalu menjilati vaginaku yang basah sambil tidak lupa tangan kirinya meremas kedua payudara Ambar dan tangan kanannya meremas payudara kananku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada duanya.

Setelah beberapa menit Ambar dan Ully menjamah tubuhku dan aku sudah merasakan lemas, mereka berdua saling berpelukan dan saling menempelkan vaginanya. Mereka mendesah bersama-sama. Setelah itu Ambar melepas pelukannya dan lalu naik ke tempat tidur. Dia tidur telentang dan Ully menindihnya sambil menciumnya. Tangannya masuk ke vagina Ambar dan mengocoknya perlahan-lahan. Mulutnya perlahan-lahan turun ke vaginanya. Sambil jarinya mengocok vagina Ambar mulutnya juga menjilatinya. Aku yang sudah bergairah lagi ikut bergabung dengan mencium bibirnya yang kelihatannya akan mengeluarkan desahan. Kucium dan kujilat lidahnya. Dia membalas sambil tangannya menarik tanganku agar meremas kedua payudaranya. Kuremas kedua payudaranya dan tangannya juga meremas kedua payudaraku. Ambar ternyata dapat bertahan lebih lama dariku dari jamahanku dan Ully.

Sekarang giliran Ully. Ully tidur telentang dan payudara kirinya dihisap oleh Ambar dan payudara kanannya kuhisap. Dia mendesah dan kedua tangannya juga membalas dengan meremas kedua payudaraku dan kedua payudara Ambar secara bergantian. Jariku dan jari Ambar lalu masuk ke vagina Ully dan mengocoknya perlahan-lahan. Ully ternyata akan mendesah lebih keras lagi sehingga bibirku dan bibir Ambar berebutan untuk menahannya. Bibir kami berdua akhirnya berciuman sambil jari kami berdua kami keluarkan dari vagina Ully dan naik ke atas berebutan kedua payudara Ully. Kami berdua meremas kedua payudara Ully dan ciuman kami turun ke bawah dan menjilati vagina Ully. Ully ternyata kalah dariku dalam bertahan.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkannya lagi. Aku tidur di tengah berhadapan dengan Ully dan Ambar berada di belakangku. Kami mulai lagi dari awal dan tidak lupa bergantian posisi tengah, depan, belakang. Kami bercumbu sampai sekitar pukul 3 dini hari. Setelah itu kami tertidur pulas karena kelelahan. Dengan posisi aku dipeluk Ambar dari depan dan Ully dari belakang.

Pagi harinya aku terbangun dan kulihat Ambar dan Ully sudah tidak ada di tempat tidur. Kudengar desahan-desahan dari dalam kamar mandi. Aku bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Kulihat Ambar dan Ully duduk berhadapan di bath tub yang penuh dengan busa sabun. Mereka berdua yang tubuhnya penuh dengan busa sabun sedang saling meremas kedua payudara mereka. Aku lalu berdiri di bawah pancuran dan kuhidupkan kran. Ambar bangkit dari bath tub dan menutup kran pancuran. Dia lalu berdiri dibelakangku dan mengambil body shower. Diusapkannya body shower ke kedua payudaraku dari belakang dan kemudian meremas-remas kedua payudaraku. Aku membalik tubuhku dan membalas meremas kedua payudaranya.

Dia lalu meratakan body shower ke seluruh tubuhku kemudian memeluk tubuhku. Kemudian tangannya membuka kran pancuran lagi. Kami berdua saling melepaskan pelukan dan saling membilas tubuh kami dan juga meremas kedua payudara serta beberapa bagian tubuh yang lain. Setelah kami berdua bersih dari sabun dan busanya, Ambar mematikan kran pancuran dan keluar dari kamar mandi sambil menggaet handuk. Aku masih berdiri dan melihat Ully yang tidur di bath tub yang airnya sudah kering tinggal busa sabun yang menempel di tubuhnya. Kulihat kedua payudaranya dan lalu kuremas. Setelah itu kutindih tubuhnya dan kami pindah posisi. Aku sekarang di bawah dia di atas dan duduk dengan posisi kedua vagina kami saling menempel. Dia meremas-remas kedua payudaraku. Kemudian dia mengusap seluruh tubuhku dengan busa sabun yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia menindihku dan membuka kran bath tub. Kami berdua saling membilas tubuh kami dan juga meremas kedua payudara serta beberapa bagian tubuh yang lain.

Setelah itu aku lebih dulu keluar dari kamar mandi setelah menghanduki tubuhku. Aku keluar dengan telanjang karena handuknya dipakai oleh Ully. Ambar ternyata tidak berada di kamar. Aku keluar dan kulihat Ambar dengan melilitkan handuk di tubuhnya sedang berjalan ke arahku sambil membawa secangkir kopi. Kusongsong dia dan kucium dia sambil tanganku meraih cangkir dari tangannya. Kuletakkan cangkir ke meja yang ada di sebelah kami berdiri dan tanganku lalu melepas handuk yang dikenakan Ambar. Kupeluk dia bersamaan dengan pelukan Ully dari belakang. Aku ingin mulai dari awal lagi tetapi kudengar klakson mobil. Kami bertiga berhamburan cepat-cepat memakai kembali pakaian. Ternyata ayahku yang datang.

Hari itu kami tidak melanjutkan percumbuan karena ayahku seharian di rumah. Ambar dan Ully juga pulang ke kostnya masing-masing. Tetapi di hari-hari selanjutnya kami bertiga bercumbu kembali. Entah di rumahku pada saat sepi atau di tempat kost Ambar atau di tempat kost Ully. Tapi sejak awal bulan Agustus tahun 2000 lalu Ully telah mempunyai pasangan cewek baru yang masih muda dan memutuskan berpisah denganku dan Ambar. Perpisahan dirayakan dengan bercumbu semalam suntuk antara aku, Ambar, Ully dan ceweknya. Sejak itu aku hanya bercumbu dengan Ambar. Begitulah pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita.

Nonton Bioskop Online

Wednesday, January 2, 2019

Ku Perkosa Pembantu

January 02, 2019
Ku Perkosa Pembantu
Cerita Sex - Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.

Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya,

setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut,
“Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”

Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,
“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya,

“tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,
“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku,

“mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,
Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak,

begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak

untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain,

Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,
“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar

Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur,

tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,
“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”

Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,
“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,

“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,

“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku

Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,
“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,

“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,

Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.

“kalian biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,

“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,

“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku

Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,

“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,

“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,
“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang,
Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.

Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,

“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,

Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,

“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,

“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku,

“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,

“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,

Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,

“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,

Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,

“ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,
“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,

“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,
“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,

“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,

Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
“pak, saya mohon cepat lakukan,”

“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,

“tenang Bu, santai saja dulu?”
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,

“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,

pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi,

“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,

“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,

“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,

“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,

“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa,

“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak,
Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,

“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan,
“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,

“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,

“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,

Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,

“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,
“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,

Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,

Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,

“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,

“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,

“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,

“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,
“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas,

setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,

Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,

“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,

“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,
“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”

Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,

“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,
“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,
“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.

“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,
“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,

“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,

Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,

“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”
“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,

Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,

“ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja

Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya.

Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,

“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,

“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,
“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,
Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.

Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.

Nonton Movie Online